#SEXYKILLERS: Sebuah Plot Twist Pertarungan Penguasa, Oligarki Tambang dan Keruntuhan PANCASILA

PERBEDAAN JAUNDICE DAN IKTERUS
March 13, 2019






#SexyKillers bagi saya hadir untuk membuat kita menjadi TIDAK SEPAKAT dengan cara yang lebih baik. Memecah Polarisasi yang sudah terlalu lama membuat kita lupa dasar negara kita, Pancasila. SALAM DAMAI UNTUK IBU PERTIWI,




Suatu pagi di sisi paling timur dan paling pelosok Kalimantan, terdapat ribuan warga yang rumahnya perlahan-lahan terbelah. Di bagian lain pulau ini juga, ada puluhan anak kecil yang meregang nyawa, beberapa tidak pernah terbungkus apik oleh peti atau kain kafan. Hanya doa yang membungkus kepergian mereka ketika tenggelam di kolam-kolam bekas galian tambang, membentuk palung-palung berhantu, dan mengambangnya janji-janji perusahaan yang seharusnya membenahi ini semua.

Kira-kira seperti itulah gambaran awal "#SexyKillers", sebuah film berdurasi sekitar 89 menit, karya Dandhy Laksono dan kawan-kawan jurnalis/videografer lainnya.

Pertanyaan pertama: Memangnya salah kalau ada PLTU?
Ga ada yang salah dengan PLTU. PLTU dibuat dengan segala proses dan ceritanya yang kelam (setidaknya dalam #SexyKillers), ya untuk kita juga. Supaya Pulau Jawa bisa terang, kamu bisa Ngopi dan Kongkow sama teman-teman, maen PUBG, Mobile Legend.

Supaya para Dokter Ahli terbaik di Pulau Jawa ini bisa melakukan penanganan terbaiknya saat melakukan berbagai tindakan medis, yang tentu saja pasiennya dapat berasal dari belahan manapun di Indonesia.

Menurut data tahun 2015, Bahan Bakar termurah untuk menghasilkan energi listrik adalah Batu Bara, hanya Rp. 378/kWh. Diikuti oleh Panas Bumi Rp. 643/kWh, Gas Alam Rp. 912/kWh, dan BBM yang mencapai Rp. 2.835/kWh. Dengan matematika sederhana saja, setuju gak kalau biaya listrik naik sampai 7 kali lipat? Tuh kan bingung!

Kalau kamu merasa sampai sini saya sedang menggiring Opini untuk GOLPUT, ga perlu kamu lanjutin membaca. Kamu bisa tinggalkan artikel ini, dan lanjutkan aktifitasmu yang lain, atau tidur saja, agar besok bangun pagi dan berangkat ke TPS (kalau kamu bukan bagian dari Produk Gagasan yang gagal oleh film "#SexyKillers").

YA, TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN PERUSAHAAN TAMBANG BATU BARA DAN PLTU, SELAIN EKSEKUSI YANG BURUK DAN SEPIHAK OLEH PERUSAHAAN.

Tidak ada yang salah dengan PLTU dan Film "#SexyKillers". Yang salah adalah kamu menjadikan itu sebagai satu-satunya alasan untuk Golput. Kecuali kalau kamu emang Golput dari 5 tahun yang lalu karena tidak bisa menemukan "Nilai" dari pilihan yang ada di "Bilik Suara" waktu itu dan besok pagi.

Lagipula saya yakin, masih ada perusahaan tambang yang punya "Manner" dan "Etika" lebih baik dalam menjalankan bisnisnya.

Pertanyaan kedua: Lalu untuk apa peduli?
Karena kamu dan saya, kita sama-sama bangsa Indonesia. Sudah sejak tahun 2014, Aktifis Cebong dan Kampret saling serang. Diantaranya menggunakan logika-logika dan sejarah paling rumit untuk mempengaruhi orang-orang yang bingung. Ya, bingung karena keduanya, Jokowi maupun Prabowo praktis sama-sama tidak menawarkan apapun, selain adu aib satu sama lain.

Dalam 5 tahun itu tentu saja pergeseran terjadi. Kubu Jokowi telah bertumbuh dan makin solid meludahi kubu lawannya dengan cercaan sejarah dan latar belakang kelam. Sedangkan Kubu Prabowo membalas pedih dengan rekam jejak Jokowi yang penuh dengan pencitraan data yang bias terhadap fakta lapangan.

Sadar gak kalian, Sila Ketiga Pancasila kita runtuh selama 5 tahun ini.
"Persatuan Indonesia"


Ngomong-ngomong, Kalian masih hapal gak dengan PANCASILA?

Menarik, seperti yang pernah ditulis oleh @Arie_Kriting (twitter),
'Buruan tanggal 17 april.
Supaya kegilaan ini berakhir.

Siapapun yang terpilih.

Semoga kita kembali akur hidup berdampingan dan saling menyayangi'.


Saya Tidak peduli jika ia adalah pendukung salah satu kubu. Yang jelas, ia tetap menjunjung tinggi Pancasila yang mana ia tumbuh dan hidup di dalamnya. Harusnya kita semua seperti ini. Bukannya tersulut media, saling serang, hanya untuk memuaskan ego, meyakinkan diri sendiri bahwa Pilihan kita paling tepat.

5 tahun loh, selama 5x365 hari ini kita lupa siapa diri kita.

Pertanyaan ketiga: Lalu solusinya apa?
Sejak akun Koasspintar ambil bagian dalam menyuarakan #SexyKillers, beragam respon bermunculan. Salah satunya adalah mempertanyakan solusi, juga penolakan akibat kelirunya persepsi mereka, yang mengira bahwa saya sedang menyuarakan Golput.

Detik ini juga, kamu yang telah menonton #SexyKillers sudah tau faktanya. Fakta bahwa Sang Petahana (Jokowi) dan Sang Petarung (Prabowo) mengenakan SEPATU BERKILAU YANG SAMA, berhiaskan debu dan kusam derita rakyat terdampak proyek TAMBANG dan PLTU yang salah itu. Kedua kubu sama-sama memeras kekayaan mereka untuk kelancaran kampanye. Yang salah satu sumbernya itu berasal dari bisnis Batu Bara. Dengan biaya produksi hanya sekitar $30 per ton, sementara harga jual mencapai $90 per ton (mohon revisi jika ada kesalahan angka). Laba dan Saham mereka cukup dicairkan menjadi lembar-lembar rupiah, kemudian digunakan untuk menggaungkan Gagasan mereka di Pesta 5 tahunan ini. Singkatnya, Cebong dan Kampret sama-sama punya andil dalam bisnis berdaya rusak hulu hingga hilir, yang melumasi politik di Indonesia.

Lalu setelah itu apa? Apakah akan terulang lagi proses 5 tahun yang memanas dalam 8 bulan terakhir?

Siapapun yang besok terpilih, adalah tugas kita bersama untuk mengangkat kembali derajat saudara sebangsa kita di lokasi-lokasi dalam #SexyKillers. Sebagai warga negara yang memiliki HAK PILIH karena Memenuhi syarat sebagai PEMILIH, tentu sudah tau harus berbuat apa setelah ini.

Setidaknya, berhentilah untuk meng-Kubu-kan diri. Setelah 17 April, kita semua cair, lebur kembali, menjadi Sila Ketiga, PERSATUAN INDONESIA.

Sampai saatnya tiba,
waktu yang akan menjawab sisa sisa pertanyaan intelektual berikut ini:

Apakah bilik suara merupakan Klimaks pertarungan Gagasan untuk Bangsa Indonesia, ataukah hanya perpindahan tangan Oligarki bisnis pertambangan Batu Bara dan proyek Energi?

Pesta Demokrasi, PEMILU, yang katanya sebuah bentuk tertinggi dari peradaban dan sudut pandang manusia terhadap KEPEMIMPINAN. Lalu untuk siapakah Pilpres ini sesungguhnya?

Ketika penguasa terpilih besok, apakah kekuasaan tersebut akan memperlebar jurang keadilan?

Siapapun yang terpilih besok, ayok kita kawal mereka. Kita bantu mereka untuk menghidupkan wacana-wacana pendayagunaan sumber energi lain untuk produksi listrik.

Kita bantu mereka menegakkan kembali Sila Kelima "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia".
Bagian dari Pancasila yang Faktanya, bukan hanya luntur oleh Peradaban pada film #SexyKillers, namun juga terjadi setiap hari di berbagai pelosok negeri ini, meskipun mereka tidak bertetangga dengan Perusahaan Tambang.

Renungan untuk kalian semua sebelum tidur ya:
"01 maupun 02, mereka sama-sama memiliki kekurangan. Suka, tak suka. Mau, tak mau. Itulah pilihan yang harus kamu putuskan setidaknya hingga besok kamu berdiri di bilik suara. Kalau semuanya buruk, pilihlah yang menurut kamu paling sedikit keburukannya. Pada akhirnya mungkin kita tidak sedang mencari yang terbaik, tapi mencegah yang terburuk untuk berkuasa."


#SexyKillers bagi saya hadir untuk membuat kita menjadi TIDAK SEPAKAT dengan cara yang lebih baik. Memecah Polarisasi yang sudah terlalu lama membuat kita lupa dasar negara kita, Pancasila.

SALAM DAMAI UNTUK IBU PERTIWI,

dr. RCW,

#17April2019
#GunakanHakPilihAnda
#DamaiIndonesiaku
#IndonesiaAdildanMakmur


Sebarkan pesan ini ke semua orang. COPY DAN PASTE DIPERBOLEHKAN UNTUK SIAPAPUN. ARTIKEL INI JUGA DITERBITKAN MELALUI KANAL TWITTER @KOASSPINTAR DAN LINE OFFICIAL KOASSPINTAR

adspace
adspace