Hiponatremi dan Hiperkalemi sebagai Komplikasi Luka Bakar Luas

8 INDIKASI MUTLAK INSULIN: nomor 4 membuat anda takjub
January 9, 2019
PERBEDAAN JAUNDICE DAN IKTERUS
March 13, 2019





Seorang dokter jaga baru saja memulai shift sorenya sekitar 1 jam yang lalu. Ia sedang bertugas di Ruang Mawar, yang mana kebanyakan merawat pasien pre atau pasca operasi (sebut saja ruang bedah). Tiba-tiba, seorang pasien lelaki dari ruang isolasi, mengeluh mual dan keram pada beberapa bagian tubuhnya. Pasien merupakan Tn. B, yang tengah dirawat akibat tersiram kuah soto, dan menderita luka bakar cukup luas tadi pagi. Menurut kalian, apa yang harus Dokter Jaga ruangan lakukan, dan ke arah mana kemungkinan diagnosis pasien Tn. B ini?




Menarik juga saat kasus ini mimin lempar ke para follower Koasspintar. Secara umum, sudah banyak yang memikirkan Gangguan Elektrolit sebagai fokus utama kasus ini. Namun ternyata, masih banyak yang keliru menentukan gangguan elektrolit secara spesifik pada Tn. B.



Coba kita cek presentasi hasil Polling di Story Instagram ya, Ternyata sebanyak 72% sudah berhasil menjawab dengan tepat, Tn. B tengah mengalami Hiponatremia.



​ Sayangnya, hanya 40% yang dengan tepat memilih Hiperkalemia sebagai kondisi lain yang sedang dialami oleh Tn. B.


Tentunya kalian bertanya-tanya, kenapa sih justru Kalium darah meningkat pada Tn. B. Kalian harus paham, bahwa setidaknya ada 3 proses yang akan dialami oleh hampir seluruh pasien dengan Luka Bakar Luas:


1.The initial resuscitation period (0 - 36 jam).

Sesuai dengan kasus Tn. B, yang baru tersiram kuah soto tadi pagi, volume intravaskular akan berkurang secara drastis. Hal ini dapat terjadi, baik akibat jaringan yang terbakar, maupun yang tidak ikut terbakar (dibawahnya). Hal ini terjadi akibat meningkatnya permeabilitas vaskuler, meningkatnya tekanan osmotik pada jaringan yang terbakar, dan edema sel. Pada saat permeabilitas vaskuler meningkat, Natrium ekstravaskuler dan ekstraseluler terdeplesi dalam jumlah yang besar, bersamaan dengan itu, tingginya sel yang rusak, baik akibat paparan hawa panas, maupun edema sel yang berujung pada nekrosis akan melepaskan Kalium dalam jumlah tinggi. Hal ini menyebabkan Hiperkalemia.


2. The early post-resuscitation period (36 jam - 6 hari)

Pasien akan mengalami hipernatremia, hipokalemia, hipokalsemia, hipomagnesemia dan hipofosfatemia


3. The inflammation-infection period (hipermetabolik)

Tahap ini terjadi dalam minggu pertama dan kedua. Ketidakseimbangan elektrolit masih dapat terjadi, terutama pada pasien yang tidak tertangani elektrolitnya dengan baik, yang kemudian diperberat dengan peradangan yang luas, disertai infeksi. Hal ini seringkali berujung pada kondisi sepsis. Oleh karena itu, pasien Tn. B sejak hari pertama sudah berada di Ruang Isolasi untuk meminimalisir paparan infeksi.


Karena hari ini mimin ingin membahas gangguan elektrolit pada hari pertama, secara khusus seperti pada kasus Tn. B, tahapan ke 2 dan 3 mungkin akan kita bahas lain waktu ya.
Gangguan elektrolit tersebut tentunya akan menimbulkan berbagai manifestasi, sesuai dengan elektrolit yang berubah kadarnya dalam darah. Pada Hiponatremia, manifestasi yang muncul dapat berupa hal-hal berikut ini;



Sedangkan pada hiperkalemia, gangguan yang sering terjadi berhubungan dengan gangguan otot dan aktifitas jantung, yaitu:
1.Paralisis otot (periodik)
2.Sulit bernapas
3.Palpitasi
4.Nyeri dada
5.Mual dan muntah
6.Parestesi


Terapi yang perlu dilakukan segera:
1.Berikan Calcium Chloride 10% (10 ml IV dalam 10 menit) untuk mencegah perburukan aktifitas jantung, sebelum kadar kalium benar-benar terkoreksi. Hal ini sangat vital untuk segera dilakukan pada saat kalian mendiagnosis Tn. B dengan Hiperkalemia berat.
2.Kembalikan Kalium ke intrasel, menggunakan Glukosa (D10 250-500 ml), berikan dengan insulin (5-10 unit).
3.Berikan Sodium bikarbonat untuk mengembalikan kadar Natrium, berikan sebesar 50-100 mEq selama 5 - 10 menit. Hal ini juga akan membantu mengembalikan Kalium ke intrasel.
4.Jika diperlukan, yaitu ketika elektrolit tidak terkoreksi dengan baik, gunakan agen diuretik yang tidak hemat kalium, atau bahkan Hemodialisis untuk memperbaiki keadaan umum pasien.​


Nah, demikian artikel kita pada hari ini. Semoga artikel kali ini bisa membantu menambah wawasan penulis, maupun kalian TS yang membaca ya. Jangan lelah untuk membaca, untuk diri kalian dan orang-orang yang akan kalian tolong di masa yang akan datang!​

Sumber: MANAGEMENT OF FLUID AND ELECTROLYTE DISTURBANCES IN THE BURN PATIENT Ramos C.G. Department of Anaesthesiology. Hospital de Santo Antonio dos Capuchos. Lisbon. Portugal
adspace