parallax background

Mengenal LASIK dan PRK Pada Bedah Refraktif

June 8, 2017
5 Tips Jitu Biar Jaga Malam TS Tidak Membosankan
May 31, 2017
dr. Sondang Hazewinkel: Perjalanan Menjadi Yang Terbaik di UKMPPD Februari 2017
June 10, 2017

Halo, TS! Buat kalian yang sedang menjalani Lab Mata, artikel ini bisa jadi bermanfaat. Meskipun menurut redaksi, artikel ini membahas hal yang bersifat spesialistik. Tetapi tidak ada salahnya jika kita juga sekedar tau, terutama buat yang ingin jadi Sp. M.


Mungkin sebagian orang berpikir pada operasi mata dengan kelainan refraksi terutama mata miopia, hipermetrop, dan astigmatisia yaitu hanya dengan menggunakan teknik LASIK. Padahal ada banyak sebenarnya prosedur yang digunakan untuk operasi pada pasien dengan kelainan refraksi.

Prosedur tersebut diantaranya adalah LASIK, PRK, LASEK, wavefront guided ablations, dan wavefront optimized ablations. Keseluruhan prosedur tersebut yang sebenarnya menggunakan sinar laser. Pada prinsipnya pada bedah refraktif itu ada 3 cara yaitu dengan insisional, sinar laser dan bedah intracular. Nah, disini yang kita bahas adalah dengan sinar laser terutama pada LASIK dan PRK.

LASIK (Laser Assisted In Situ keratomileusis) merupakan salah satu dari tindakan bedah refraktif. Prosedur ini merupakan prosedur terbaru dibandingkan dengan prosedur lainnya dalam bedah refraktif.

Pertama-tama LASIK dikerjakan dengan membuat flap kornea dengan mikrokeratom yang mampu berhenti sesaat sebelum flap terputus. Selanjutnya laser akan melakukan keratomileusis.

Kemudian setelah keratomileusis selesai, flap dipasang kembali ke kornea. Langkah ini yang merupakan pembeda dari prosedur PRK. Bila dibandingkan dengan PRK, Lasik dapat mengatasi miopia yang lebih tinggi dar S-10,0D sehingga menjadi normal (visus menjadi 6/6 tanpa kaca mata). LASIK juga dapat memperbaiki segi kosmetik dan telah terbukti aman, efektif, dan stabil.

Proses penyembuhan dan pemulihan pengelihatan pada LASIK pun cukup cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Walaupun demikan tetap ada penyulit dari prosedur LASIK ini. Beberapa penyulit LASIK yang perlu diwaspadai antara lain lepasnya flap, flap inkomplit, flap terlalu tipis, buttunholes, flap dengan pemotongan tidak rata, perforasi kornea, infeksi, mata kering dan komplikasi retina. Namun menurut beberapa rumah sakit mata, semua komplikasi masih dapat ditangani dengan baik.

Berbeda dengan prosedur LASIK, PRK (Photorefractive Keratectomy) disini bertujuan untuk menipiskan kornea (pada LASIK dengan pemasangan flap). Prosedur PRK dikerjakan dengan cara mengupas lapisan kornea dan kemudian ditembakkan sinar laser eximer.

Setelah ablasi kemudian dilakukan pemasangan lensa kontak bandage selama 5 hari. Epitel kornea disini akan tumbuh sempurna dalam waktu 2-3 hari. Penyulit terburuk yang bisa terjadi pada PRK adalah terjadinya luluhnya (melting) kornea. Resiko untuk muncul kabut (haze) juga ada sebagai respon dari penyembuhan. Penyulit timbulnya kabut (haze) ini dapat diminimalkan dengan pemakaian Mitomicin C 0,02% pada saat operasi. Namun demikian dengan tindakan ini pasien juga bisa mendapatkan visus 6/6 sama seperti prosedur LASIK.

Pada prosedur PRK ini biasanya digunakan pada kasus calon penerbang, calon angkatan udara, ataupun kepolisian yang menderita kelainan refraksi (miopi, hipermetrop, astigmatisme) pada derajat ringan sampai sedang.

Menurut kepala bagian kornea AL-AS dijelaskan bahwa ketajaman pengelihatan pada PRK yang menggunakan wavefront guided ternyata lebih baik dibandingkan LASIK. Oleh karena itu, ada kebijakan dari calon TNI AU dan penerbang yang mengalami kelainan refraksi diperbolehkan menjalani PRK dibandingkan dengan LASIK.

Sumber: Suhardjo dan Hartono. 2012. Ilmu Kesehatan Mata. Yogyakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
adspace
adspace